Sabtu, 03 September 2022

d-day (ep6)

    Hari ini hati Nayra benar-benar sudah mantap ingin menyatakan perasaannya pada Rama. Dengan perasaan campur aduk dan tidak ingin punya ekspektasi apa-apa atas jawaban yang akan Rama berikan, Nayra memberikan sebuah buku catatan dimana semua tulisan-tulisan nya ada. Lebih tepat nya dia sudah menulis semua yang dia rasa, dan ingin bilang dengan cara itu. Karena selain tidak berani untuk bicara secara langsung, dia juga merasa menulis tentang Rama adalah hal romantis yang pernah ia lakukan untuk seorang laki-laki.


“Ram, dimana? Kalau gak sibuk gue mau ngomong bentar.”


“Baru banget sampai rumah, mau bersih-bersih dulu.”


“Oke, gue tungguin”



“Udah nih Nay, tadi mau ngomong apa?”


“Besok bisa ketemu sebentar gak? Gue mau ngasih sesuatu.”


“Wih, apa tuh?”


“Liat aja besok.”


“Jadi penasaran nih gue.”


“Yaudah, sampai ketemu besok ya di cafe Wijaya”


“Udah? Ngomong itu doang?”


“Iya, itu doang. Hahaha”


    Esok hari sesuai janji dengan Rama semalam, Nayra sudah lebih dulu duduk di cafe itu sambil sibuk dengan laptop nya. Sengaja dia datang lebih cepat dari waktu janjian karena memang dia sudah biasa datang sendiri ke cafe itu dengan setumpuk kerjaan di laptopnya. Sudah habis setengah gelas Vanilla Latte dan beberapa potong kentang goreng di piringnya, kemudian Rama datang dengan ramah menyapa.


“Sudah lama Nay?”


“Gak juga, sengaja dateng lebih cepat aja tadi” -

“Mau pesan apa? Pesan dulu aja”


“Iya, bentar ya”


Setelah selesai memesan satu gelas Ice Americano Rama kembali ke tempat Nayra duduk dan tanpa basa-basi langsung bertanya.


“Apa nih yang mau dikasih ke gue? Bikin penasaran aja”


“Nih” sambil mengeluarkan buku kecil dari tas Nayra memberikan ke Rama


“Buku?” Tanya Rama bingung


“Ada isinya” Jawab Nayra santai “baca aja, tapi nanti dirumah”


Satu gelas Ice Americano yang dipesan Rama sudah sampai di meja. Sedangkan gelas Vanilla Latte-nya yang sisa setengah itu tidak disentuh Nayra sejak tadi. Keduanya larut dalam cerita tentang pekerjaan yang gak ada habisnya, tentang menjadi dewasa ternyata seperti ini. Tapi tidak lama, karena Rama buru-buru pergi — ada janji dengan yang lain.


***


Sabtu, 16 April 2022

something that Nayra should know (ep5)

     Desember sudah lama lewat, tapi hujannya masih saja mengikuti hingga Maret. Padahal menurut Nayra, hari-hari yang selalu dingin di bulan kesayangannya itu tidak pernah cocok dengan musim semi yang indah, yang ranting-ranting pohon kembali menumbuhkan daun, yang bunga-bunga kembali bermekaran. Tapi, harusnya sekarang musim semi bukan? Kenapa masih sering hujan? Ternyata hujan itu mengikuti pemiliknya.

Musim semi ini ulang tahunnya Rama, laki-laki yang belakangan selalu mondar-mandir dikepala Nayra. Tapi Nayra cuma bisa memberi ucapan lewat pesan, karena dia sedang ada urusan kerja ke luar kota. Pesan itu dibalas terima kasih oleh Rama, tapi Nayra tidak pernah tahu apa yang terjadi pada hari-harinya Rama disana.

Seperti biasa, Rama tetap masuk kantor meski di hari ulang tahunnya. Semua teman-teman kantor di traktir oleh dia. Selain ucapan dari teman-teman dan dari Nayra, Rama ternyata juga menerima ucapan selamat dari Aurel, wanita yang juga ada di hidupnya. Entah dengan percakapan apa, sorenya sepulang kerja mereka nonton berdua. Film Batman yang belum lama ini rilis. Aurel bilang dia sudah menonton film ini sebelumnya, tapi Rama tetap ingin menonton Batman. Jadi disepanjang film, Aurel hanya tidur dengan manis dibahunya Rama.

Sehabis menonton, mereka keluar gedung bioskop dan ternyata hujan deras. Ide banget tadi si Rama parkirnya diluar gedung. Mau tidak mau mereka harus lari-larian untuk sampai ke mobil. Tidak ada payung, untung ada jaket. Jaketnya Rama dipinjami ke Aurel biar dia tidak terlalu basah, dan Rama sendiri membiarkan dirinya kehujanan. Iya romantis sekali, seperti cerita di drama korea, sepasang sejoli yang sedang jatuh cinta.

Semantara Nayra di kota lain yang tidak tahu dengan kejadian itu, sibuk dengan desain-desainnya yang harus segera selesai karena besok pagi harus dipresentasikan ke klien. 

Sabtu, 02 April 2022

the sunset is beautiful, isn't it?

    Pernah dengar kalimat itu? Tapi tau gak maksudnya apa? Maksudnya, I love you, but I'm letting you go. Seperti matahari terbenam, bagus, indah dan kita suka melihatnya, tapi pelan-pelan akan hilang juga, pergi ninggalin kita.

Walau aku suka padanya, tapi aku juga akan melepaskannya. Ya, karena beberapa orang mengenal batas-batas itu. Batas untuk hanya mengagumi, untuk cukup mendoakan dalam hati.

Dia hebat, meski aku jarang memujinya. Dia sungguh hebat. Aku tidak mungkin sembarang jatuh hati. Ada sesuatu di dirinya yang menarik. Entah apa, tapi ada. Tidak bisa digambarkan. Dia anak laki-laki pertama di keluarganya, bertanggung jawab, pekerja keras, dan yang paling penting tidak pemalas. Aku paling tidak suka lelaki pemalas, tidak bisa diajak bertumbuh bersama.

Dia suka bicara dan aku lebih suka mendengar. Tapi sayang, dia sepertinya tidak nyaman bercerita denganku. Padahal aku senang diganggu olehnya. Dia anak baik, masih muda pula. Aku yakin, banyak wanita diluar sana yang mau dengannya. 

Karena aku penganut paham bahwa cinta tidak boleh egois, makanya aku tidak mau egois. Karena dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku. Kasihan dia, jika harus terjebak dengan aku yang tidak seru. Aku aneh. Aku bahkan bisa cemburu padahal dia bukan milikku. 

Apapun pilihanmu semoga kamu bahagia. Semoga aku juga.


***

Rabu, 12 Januari 2022

Not me, huh? (ep4)

 "Aaallll" Nayra merengek manja ke Alya

"Ada apa sih, datang-datang bikin rusuh aja"

"Rama al, Rama" 

"Rama kenapa?" Alya bingung

"Aku ngikutin saran kamu untuk gak hubungin dia dan ngasih dia waktu buat sendiri"

"Terus?"

"Terus, pas aku pulang duluan waktu itu, karena ada janji sama dokter buat kontrol, ehh dia malah jalan sama gebetan baru nya"

"Haaah? Siapa lagi gebetan nya? Bukan kamu doang?"

"Gak tahu, kayaknya banyak deh"

"Yaudah Nay, yang kayak gitu gak usah di ladenin lagi lah."

"Yaa, tapi aku juga yang salah sih. Aku nya ke-baperan, padahal dia cuma mau temenan sama aku"

"Jangan nyalahin perasaan, perasaan suka dan nyaman itu gak bisa tiba-tiba datang tanpa ada pemicu"

"Aku gimana dong Al? Ternyata bukan aku yang dia mau"

"Bukannya udah tahu harus gimana? Mundur lah Nay, ngapain mengharapkan orang yang gak mau sama kamu"

"Tapi aku merasa ada yang aneh gitu sama dia, kenapa ya?"

"Aneh apanya?"

"Udah jelas-jelas nih semua orang tahu dia jalan sama perempuan ini dan antar jemput si perempuan ini, dan jelas-jelas aku juga liat mereka sering ketemu. Tapi, setiap digodain anak-anak yang lain tuh dia gak pernah ngaku. Buat apa gitu menyangkal sesuatu yang semua orang udah tahu kebenarannya?"

"Gak tahu ya, mungkin dia sadar kali kalau kamu suka sama dia, dan dia cuma gak enak aja sama kamu"

"Masa gitu Al? Masa sih dia tahu? Malu dong aku"

"Menurut kamu, dia tahu gak? Dari gerak-geriknya"

"Gak ngertiiii... Mana ngerti aku Al masalah gini-ginian tuh"

"Iyaa sih, dasar si polos yang gak pernah pacaran. Belajar dulu deh sama aku"