Sabtu, 24 November 2018

Melangkah

Aku saja tidak ku perbolehkan egois pada diriku sendiri. Lantas mengapa mereka harus egois atas diriku?

***

Mengapa rayuanmu kau beri ketika aku memilih pergi? Tak pantaskah aku menerimanya ketika kita masih bersama? Mengapa kau gigih mempertahankanku ketika aku bersama yang baru? Selama ini, telahkah kau jaga aku?

Apalagi yang harus di bicarakan? Sudahlah. Aku ingin dilepaskan. Aku adalah orang yang tak mudah di patahkan ketika aku sudah membuat keputusan.

Pesanku satu. Jika nanti kau punya yang baru, jika kau rasa dia penting bagimu, jagalah dia dengan baik, berikan apa yang bisa kau berikan selagi dia bersamamu. Karena jika dia sudah hilang, maka akan sulit untuk pulang.

Jumat, 16 November 2018

Temukan Pulangmu

Jangan tuduh aku sama dengan yang lain, yang hanya mampir sebentar lalu pergi menjauh. Aku sudah berjuang sewarasku untuk menjadi yang kau ingin, kaulah yang tak butuh aku dengan penuh. Kau yang membuat aku pergi, sebab aku punya hati untuk menyadari bahwa aku bukan yang kau hendaki.

Telah ku sediakan rumah paling nyaman untuk kau pulang. Yang ku isi dengan kehangatan hati dan pelukan. Tapi kau tetap saja hengkang, mengembara menemukan wanita yang tanpa ada kurang. Dan disini aku wanita yang penuh kelemahan, dengan senang hati kau tinggalkan.

Menurutmu, haruskah aku mengurai tangis untuk mencuri hatimu yang sadis? Haruskah aku meringis atas cinta yang seharusnya manis? Maaf saja, tak sebodoh itu juga aku dalam mencinta. Logika ku masih dengan sangat baik berfungsi, mengemis atas cinta yang tak pernah ada adalah kebodohan diri yang hakiki.

Tak ada yang suka di jadikan pilihan, apalagi tentang hati dan ikatan. Ketika berjuang ku tak pernah dapat balasan. Ketika menyerahku kau bilang keputus asaan. Disitulah kau benar-benar tak punya perasaan.

Maka sekali lagi aku tegaskan, bahwa aku pernah benar-benar cinta, aku pernah benar-benar berjuang. Tapi kau pasti sangat paham bahwa berjuang sendirian itu melelahkan, dan sangat menyebalkan. Maka kali ini, aku benar-benar melepaskan.

Terbanglah, temukan rumah untuk pulang yang kau impikan. Sebab akupun juga akan. Karena segala yang pernah melewatkan, tak akan ada lagi kesempatan. Karena yang diperjuangkan, seharusnya masa depan.

Jumat, 09 November 2018

Untuk yang ku sayang

Sore menua, senja menjelang. Dan akhirnya kegelapan malam yang biru menyelimuti halaman.

***

Melangkah dan berpindah, yang kulakukan hanyalah bersiap untuk kesekian kalinya merasakan patah. Tak apa, setidaknya tak melulu meratapi masa lalu.

Untuk diriku sendiri, terima kasih karena telah bertahan sejauh ini. Aku tahu dalamnya trauma yang kau alami selama ini.

Untuk diriku sendiri, terima kasih karena tidak menyerah dalam berjuang. Aku tahu banyak kepedihan yang kau tinggalkan dibelakang.

Untuk diriku sendiri, terima kasih karena tidak meninggalkan aku sendirian. Aku tahu betapa rumit pergelutan batin yang kau lawan. Aku tahu, banyak ketakutan yang kau coba hilangkan. Dan aku tahu, banyak perasaan yang kau coba bunuh perlahan.

Untuk yang ku sayang, diriku sendiri. Maaf selama ini kau harus terlalu sering mengalah walau tak salah. Maaf karena terlalu memaksamu tegar dan bersabar atas semua duka dan luka yang melebar. 

Untuk yang ku sayang, diriku sendiri. Maaf atas ketidaksempurnaan ku ini. Maaf kau harus menerima penolakan yang bertubi-tubi. Maaf karena kau harus selalu bungkam ketika dihina oleh mereka yang mengaku saudara se-ranji.

Untuk diriku sendiri, setelah ini kau harus jujur pada dirimu. Kau boleh mengabaikan apa yang tak kau suka, meski dahulu kau selalu dipaksa melakukannya. Kau boleh pergi kemanapun kau mau, meski selama ini kau tak pernah benar-benar pergi dari lukamu.

Untuk diriku sendiri, aku berharap kau tidak lupa cara bahagia. Meski aku tahu, kau pasti susah payah mengingatnya. Sebab kau benar-benar ragu, apakah seumur hidupmu kau pernah merasakan bahagia sesungguhnya.

Terima kasih semesta. Karena telah mengambil segala yang kau ambil, telah memberi segala yang kau beri.

Terima kasih patah hati, karenamu aku bisa menjadi manusia sekuat ini.

Jumat, 02 November 2018

Jangan lagi

Jangan lagi buatku bingung. Kau bisa pergi dan biarkan luka ini aku yang tanggung. Atau kau bisa menetap berbagi kenang dengan cintaku yang menggunung.

Jangan lagi buatku bingung. Kau tak perlu memberiku jatah cemilan soremu. Tanpa bilang apa-apa lalu kau pulang begitu saja. Jangan lagi lakukan hal-hal yang mestinya dilakukan orang berpasangan. Terlalu manis untuk ku terima dengan perasaan biasa saja. Namun terlalu kecewa jika niatmu bukan karena apa-apa. 

Jangan lagi buatku bingung. Kau, mengapa selalu bahagia ketika aku sedang kecewa? Menerka-nerka kau ini sebenarnya apa? Senangkah melihatku kehilangan arah? Sebangga itukah menertawakanku yang kau hina mentah-mentah? Aku sedang dikejar-kejar masalah, dan kau malah berulah.

Tidak. Tidak bisa begini terus. Kau selalu berubah-ubah. Hal-hal kecil yang kau lakukan kepadaku, membuat aku makin tak bisa melupa. Padahal dengan sadar aku tahu dihatimu hanya ada dia. Di layar ponselmu hanya ada potretnya. Dia yang kau jadikan wanita idola. Namanya yang pada chat WhatsAppmu selalu menjadi baris pertama.

Seketika, aku merasa menjadi manusia tak berguna ketika kau bilang aku hanyalah beban. Setelah itu, jangan berani lagi kau bilang kasihan. Aku sama sekali tak ingin dikasihani, jika tak berniat kau beri hati. Dan jangan khawatir, kau berbahagialah saja. Urusan patah hati biar aku yang terima.

***

Aku harus pergi. Tidak sanggup lagi jatuh cinta sendiri. Tidak sanggup lagi menerima kecewa bertubi-tubi. Membiarkanmu membuatku merasa separuh. Menghancurkan mimpi yang seharusnya utuh.

Aku harus pergi, dari cinta yang menyakiti diri. Jatuh cinta harusnya membuat bahagia, bukan malah memelihara lara. Jika hanya ada duka, tentu aku telah salah dalam mencinta.

Mungkin, sesekali menjadi tega juga harus kucoba.